Mata Uang Asia Berguguran, Mulai dari Won-Rupiah-Yen-Yuan – Namun ternyata Vietnam dikatakan selamat dari keguguran tersebut.
Tekanan dolar Amerika Serikat (AS) kembali terasa di pasar valuta Asia pada perdagangan awal Senin (28/9).
Hampir seluruh mata uang kawasan masuk zona merah ketika greenback bertahan dekat level tertinggi dalam dua bulan, melansir CNBC Indonesia.
Berdasarkan data refinitiv per pukul 09.25, sembilang dari 10 mata uang asia yang dipantau melemah, hanya Vietnam yang bertahan di zona hujau.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam pagi ini setelah melemah 0,44% ke posisi KRW 1.359,2US$.
Baca juga : Fotografer ini Tinggal 17 Tahun di Puncak Gunung Fuji untuk Mengabadikan Cerita
Baht Thailang menyusul dengan koreksi sebear 0,42%, sementara rupiah melemah 0,39% ke posisi Rp17.950/.US$
Hal ini semakin mendekati level psikologisnya di Rp18.000/US$.
Yen Jepang terdepresiasi 0,27% dan untuk Dolar Taiwan dan juga Ringgit Malaysia sama-sama melemah 0,22%.
Lalu disusul oleh dolar Singapura dan peso Filipina yang masing-masing terkoreksi 0,08%.
Yuan China juga turut masuk ke zona merah, dengan pelemahan 0,03%.
Sementara itu, dong Vietnam menjadi satu-satunya mata uang yang mampu menguat, dengan kenaikan 0,05%.
Tekanan terhadap mata uang Asia pagi ini masih banyak dipengaruhi oleh dolar AS yang bertahan kuat.
Indeks dolar AS (DXY) berada di kisaran 101,15, atau mendekati level tertingginya dalam dua bulan.
DXY juga berada di jalur penguatan sekitar 1,7% sepanjang September, yang sejak Juni berpotensi menjadi kenaikan bulanan terbaik dolar AS.
Penguatan greenback masih ditopang oleh kombinasi kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury AS yang tinggi.
Tidak hanya sampai disana, hal ini bahkan juga tentang ekspetasi bahwa The Federal Reserve/The Fed belum selesai menaikkan suku bunga.
Harga minyak Brent kembali naik lebih dari 1% dan juga bertahan di atas US$106 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak kesepakatan damai dengan Iran untuk segera mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Kondisi ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan inflasi.
Tekanan harga yang maish tinggi membuat pasar memperkirakan The Fed masih memiliki ruang untuk kembali mengetatkan kebijakan.
Sim Moh Siong, FX Strategist OCBC, mengatakan “Greenback dapat menguat berlebihan dalam jangka pendek jika ketegangan di pasar energi terus berlanjut dan risiko inflasi semakin meningkat,”
Berdasarkan CME FedWatch, pasar saat ini memberikan perhitungan peluang sekitar 65% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober.
Perhatian pasar pekan ini juga akan tertuju pada sederet data ekonomi AS.
Indeks gambar pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE akan dirilis pada Rabu, sedangkan laporan nonfarm payrolls (NFP) akan menyusul pada Jumat.
Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai apakah ekonomi dan inflasi AS masih cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga lanjutan.
