Tak Ada Kata Terlambat untuk Belajar, Perjuangan Rumdani di Usia 52 Tahun Jadi Inspirasi – Banyak orang menganggap pendidikan harus diselesaikan saat masih muda. Ketika usia bertambah dan kesibukan hidup semakin banyak, keinginan untuk kembali belajar terkadang hanya menjadi angan-angan. Namun, kisah Rumdani Prapti Sumiwi menunjukkan bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri tidak selalu datang pada usia yang sama bagi setiap orang.
Rumdani berhasil mendapatkan ijazah Paket C, setara SMA, pada usia 52 tahun. Kisahnya kembali menjadi perhatian publik setelah dibagikan dalam pemberitaan pada Oktober 2026. Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa keinginan untuk belajar tetap berarti, meskipun seseorang harus memulainya ketika teman-teman sebayanya sudah lama meninggalkan bangku sekolah.
Sebelum menempuh pendidikan kesetaraan, Rumdani sudah aktif sebagai wirausahawan dan kerap diundang menjadi narasumber dalam berbagai pelatihan. Namun, ia pernah merasa minder ketika bertemu narasumber lain yang memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi. Pengalaman itu mendorongnya untuk kembali belajar dan memperoleh ijazah yang selama ini belum dimilikinya.
Rumdani kemudian mengikuti pendidikan di PKBM Al Fikri, Cilacap, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan Paket B pada 2012 sebelum melanjutkan ke Paket C dan lulus pada 2015. Di tengah perbedaan usia dengan teman-teman sekelasnya, ia tetap menjalani proses belajar, bahkan belajar pada malam hari sekitar pukul 19.00 hingga 21.00.
Perjalanannya tentu membutuhkan kemauan untuk menyesuaikan diri. Kembali belajar saat usia tidak lagi muda berarti harus siap menghadapi materi yang sulit, membagi waktu, dan tidak malu bertanya ketika belum memahami pelajaran. Namun, justru di situlah terlihat bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut atau minder, melainkan tetap melangkah meskipun perasaan itu ada.
Tak Ada Kata Terlambat untuk Belajar, Perjuangan Rumdani di Usia 52 Tahun Jadi Inspirasi
Kisah Rumdani tidak semata-mata tentang keberhasilan memperoleh ijazah. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi cara untuk membangun kepercayaan diri dan membuka kesempatan baru. Pengetahuan yang diperoleh juga dapat membantu seseorang menjalani peran dalam kehidupan dengan lebih baik.
Program Paket C sendiri memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyelesaikan pendidikan setara SMA melalui jalur pendidikan kesetaraan. Artinya, orang yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan formal tetap memiliki pilihan untuk melanjutkan belajar sesuai ketentuan yang berlaku.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Ada yang menyelesaikan pendidikan sejak muda, sementara yang lain baru memiliki kesempatan setelah melewati berbagai pengalaman hidup. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa lebih rendah atau berhenti mencoba.
Perjalanan Rumdani memberikan pesan sederhana: jangan biarkan usia atau rasa minder sepenuhnya menentukan batas kemampuan diri. Selama masih ada kemauan dan kesempatan, selalu ada hal yang bisa dipelajari dan diperbaiki.
Tidak semua orang harus menempuh perjalanan yang sama. Namun, siapa pun bisa mengambil langkah kecil untuk berkembang, mulai dari mengikuti pelatihan, membaca buku, mempelajari keterampilan baru, hingga melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda.
Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi juga tentang keberanian untuk kembali melangkah setelah sekian lama berhenti. Sebab, memulai lebih lambat bukan berarti gagal—terkadang, itu adalah bentuk keberanian yang paling berarti.
Baca Juga :Â https://www.ceritaseru.co.id/timnas-indonesia-melesat-ke-peringkat-116-fifa-gelar-juara-jadi-sorotan/
