Uang Rp 20.000 Triliun Lenyap Seketika, Nvidia Runtuh dari Kejayaan – Saat ini raksasa chip di Amerika Serikat (AS) mulai terguncang.
Hal ini terjadi seiring krisis kelangkaan chip di pasaran yang disebabkan oleh ‘ledakan’ teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pada Jumat (5/6) pekan lalu, saham-saham produsen chip anjlok parah dan juga kehilangan nilai pasar sebesar US$1,3 triliun atau setara Rp23.626 triliun.
Beberapa perusahaan chip AI kawakan terkena imbas yang paling besar, yakni Nvidia, Micron Technology, ADM, dan Broadcom.
Indeks saham chip PHLX sendiri merosot dengan drastis hingga 10,3%.
Baca juga : Berlian Langka Ocean Dream Akhirnya Pecah Rekor dan Terjual Rp302,7 Miliar
Indeks ini tercatat sebagai penurunan yang paling tajam sejak Maret 2020, ketika pandemi covid-19 menghantap bursa saham global.
Aksi jual pada Jumat lalu juga menambahkan kerugian pada Kamis (4/6), setelah Broadcom mengeluarkan laporan kuartalan.
Isi laporan ini menunjukkan permintaan untuk bisnis chip AI kustomnya tidak mencapai ekspetasi yang tinggi.
Insiden ini juga terjadi tepat setelah Elon Musk mempersiapkan penawaran umum perdana (IPO) yang spektakuler minggi depan untuk SpaceX dengan patokan valuasi yang sangat tinggi sebesar US$1,75 triliun.
Pada Rabu (3/6) indeks chip sendiri mencapai rekor yang tertinggi.
Hal ini terjadi setelah kerugian yang terjadi pada Jumat pekan lalu, namun indeks tersebut tetap naik 73% sejak awal 2026.
Nvidia sendiri merupakan pembuat chip yang paling berharga di dunia, mengalami penurunan 6%.
Melansir Reuters, penurunan ini memangkas hingga lebih dari US$300 miliar dari kapasitas pasarnya.
Micron Technology juga anjlok hingga 13%, menghapus sekitar US$150 miliar nilai pasar.
Saham investor baru-baru ini, Marvell Technology kehilangan 17%, smentara untuk AMD kehilangan hampir 11%.
Seorang trader independen di Triple D Trading, Dennis Dick, berkata “Ada banyak orang di sini yang hanya membeli saham saat harga turun secara membabi buta,”.
Ia juga menambahkan “Membeli saham saat harga turun secara membabi buta telah menghasilkan uang bagi Anda, tetapi itu berakhir hari ini,”.
Kekhawatiran tentang suku bunga yang lebih tinggi ini juga membuat para investor di pasar saham AS panik setelah data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan.
Hal ini juga diikuti dengan S&P 500 turun 2,6%, mengutip CNBC INDONESIA.
Salah satu penerima dari manfaat terbesar perlombaan AI, Broadcom, kehilangan 7,9%, sehingga kerugian dua harinya menginjak hingga hampir 20%.
Ohsung Kwon, Kepala Strategi Ekuitas di Wells Fargo, mengatakan “Sektor semikonduktor sudah terlalu jenuh untuk dibeli. Itulah mengapa kita melihat aksi jual. Saya rasa ini bukan akhir dari pasar bullish (semikonduktor),”.
