Di Balik Seragam SMP, Ada Perjuangan Aji yang Tak Banyak Orang Tahu – Bagi sebagian anak seusianya, pulang sekolah berarti waktunya bermain, beristirahat, atau berkumpul bersama keluarga. Namun, kehidupan seperti itu belum sepenuhnya bisa dirasakan oleh Nasyarudin Maulo, atau yang akrab disapa Aji. Di usianya yang baru 14 tahun, siswa kelas 2 SMP di Maluku Tengah ini harus menjalani hidup sendiri di kamar kos sekaligus memikirkan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kisah Aji menjadi perhatian setelah perjuangannya diangkat melalui media sosial dan diberitakan sejumlah media. Di balik seragam sekolah yang dikenakannya, ada tanggung jawab besar yang harus ia jalani, bahkan ketika seharusnya ia bisa lebih fokus menikmati masa remaja.
Sejak sekitar Juni 2026, Aji tinggal sendiri di kos dengan biaya Rp200 ribu per bulan. Kondisi keluarga membuatnya harus menjalani kehidupan terpisah dari orang tua. Sementara itu, kiriman uang dari ibunya yang bekerja sebagai juru masak tidak selalu datang secara teratur.
Ketika uangnya tidak cukup, Aji terpaksa mencari penghasilan sendiri. Ia sesekali bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah sekitar Rp100 ribu sehari atau mencari ikan di laut dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu. Dalam keadaan tertentu, ia bahkan harus meninggalkan sekolah demi mendapatkan uang untuk makan dan membayar kos.
Kondisi tersebut membuat perjuangannya terasa semakin berat. Aji pernah bercerita bahwa ia terkadang hanya makan nasi dengan bumbu penyedap ketika tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan lain.
Meski begitu, ia tetap berusaha mengejar pelajaran yang tertinggal. Wali kelasnya, Kotje Novaria, memahami situasi yang dihadapi Aji dan menyebut bahwa ia berusaha mengganti waktu belajar yang hilang dengan belajar pada malam hari.
Di Balik Seragam SMP, Ada Perjuangan Aji yang Tak Banyak Orang Tahu
Di tengah kesulitan tersebut, pendidikan tetap menjadi harapan penting bagi Aji. Ia sebelumnya pernah menerima Program Indonesia Pintar (PIP) saat duduk di bangku sekolah dasar. Namun, perpindahan sekolah membuat proses penyaluran bantuan untuk jenjang SMP mengalami kendala administrasi.
Pihak sekolah kini berupaya mengurus kembali proses pengajuan bantuan tersebut agar kebutuhan pendidikannya dapat lebih terbantu. Dukungan ini penting agar Aji tidak terus-menerus dihadapkan pada pilihan sulit antara mencari uang untuk bertahan hidup dan mengikuti pelajaran di kelas.
Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa ada siswa yang menghadapi persoalan jauh lebih besar daripada sekadar tugas dan ujian. Bagi mereka, kehadiran sekolah yang peduli, bantuan pendidikan yang tepat sasaran, dan dukungan lingkungan dapat membuat perbedaan nyata.
Kisah Aji memang menunjukkan kemandirian di usia muda, tetapi situasinya juga mengingatkan kita bahwa anak-anak tetap membutuhkan perlindungan dan dukungan orang dewasa. Mereka seharusnya memiliki kesempatan untuk belajar dan tumbuh tanpa harus mengorbankan pendidikan demi memenuhi kebutuhan dasar.
Di balik seragam SMP Aji, ada perjuangan yang mungkin tidak terlihat oleh teman-temannya. Semoga perhatian publik terhadap kisahnya tidak berhenti pada rasa simpati, tetapi juga mendorong hadirnya bantuan nyata agar ia bisa melanjutkan sekolah dengan lebih tenang.
Sebab, setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk belajar dan merancang masa depan, tanpa harus berjuang sendirian untuk sekadar bertahan hidup.
Baca Juga : https://www.ceritaseru.co.id/bukan-bonus-biasa-kepedulian-bos-kepada-karyawan-ini-berujung-hadiah-mobil-bmw/
