Mesir Ikut Tolak Kapal Pesiar yang Bawa Turis LGBTQ setelah Turki – Nasib malang ini menimpa para penumpang kapal pesiar khusus LGBTQ.
Diketahui mereka tengan melakukan perjalanan di kawasan Mediterania.
Setelah beberapa hari sebelumnya sudah dilarang untuk mengunjungi Turki, dikabarkan saat ini mereka juga ditolak masuk ke pelabuhan penggantinya yaitu Mesir.
Berdasarkan pernyataan USA TODAY, kabar ini langsung dikonfirmasi oleh Rich Campbell, Presiden dan juga CEO Atlantis Events selaku operator pelayaran.
Kapal pesiar mewah Scarlet lady milik Virgin Voyages tersebut awalnya dijadwalkan akan berlabuh di Alexandria, Mesir, pada 9 Juli.
Hal ini dikatakan bagian dari paket pelayaran Mediterania selama 10 malam yang berangkat sejak 5 Juli lalu, mengutip CNBC Indonesia.
Rute ke Mesir dan juga Pulau Kreta di Yunani ini sebernarnya dipilih untuk menggantikan jadwal kunjungan ke Turki yang dibatalkan sepihak oleh otoritas setempat.
Campbell sendiri mengatakan bahwa “Kami sudah mendapat persetujuan untuk bersandar di Mesir tapi empat jam sebelum kami sampai, kami diberitahu bahwa kapal tidak diizinkan masuk ke pelabuhan. Tidak ada penjelasan yang diberikan untuk keputusan ini dan kami sangat kecewa,”
Otoritas pelabuhan Mesir dikatakan belum memberikan tanggapan resmi terkait alasan tersebut.
Baca juga : Baterai Nuklir yang Bisa Bertahan selama Ribuan Tahun telah Diciptakan oleh China
Penolakan ini dinilai mengejutkan, karena Atlantis Events mengaku telah berulang kali membawa para wisatawan ke negara tersebut tanpa ada kendala di masa lalu.
“Tahun lalu, kami membawa 2.500 tamu ke Alexandria dan tahun sebelumnya 1.200, keduanya tanpa insiden dan aman. Setidaknya sudah 5 kali berlabuh di Mesir di masa lalu,” ungkapnya.
Sebelum insiden di Mesir, kapal ini dikatakan sudah sempat mendapat penolakan keras atas kehadiran mereka di Turki pada akhir Juni lalu.
Otoritas provinsi Aydın,tempat pelabuhan populer kusadasi berada, mereka secara terbuka melarang kapal tersebut untuk bersandar.
Berdasarkan rilis resmi pemerintah lokal Turki, kunjungan kapal pesiar LGBTQ ini dinilai akan “memicu kekhawatiran publik yang signifikan karena hubungannya dengan kelompok yang perilakunya tidak sesuai dengan struktur masyarakat dan nilai-nilai moral.”
Dalam menanggapi boikot ini, Campbell memberikan kritik keras atas kebijakan diskriminatif yang diambil oleh negara-negara tujuan wisata tersebut.
Ia juga menegaskan “Jika bisnis Anda adalah pariwisata, Anda tidak bisa memilih dan memilah siapa tamu Anda. Begitu Anda melakukannya, Anda menanamkan rasa takut pada kelompok tersebut. Ini adalah langkah yang sangat picik,”.
