Program MBG di Sejumlah Sekolah Dihentikan Sementara, Dampal Karthula? -Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan dan layanan pemenuhan gizi bagi siswa. Di Sumatera Utara, kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah membuat pemerintah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Akibatnya, penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah yang menerapkan PJJ dihentikan sementara.
Kebijakan ini menjadi perhatian karena MBG merupakan salah satu program yang ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak selama masa sekolah.
Dinas Pendidikan Sumatera Utara menetapkan PJJ pada 16–21 Oktober 2026 sebagai langkah untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari dampak kabut asap. Penyesuaian ini dilakukan menyusul menurunnya kualitas udara akibat karhutla.
Menurut pemberitaan detikSumut pada 19 Oktober 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Sumatera Utara menghentikan sementara distribusi MBG di sekolah yang menerapkan PJJ karena tidak ada kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah.
Meski demikian, penghentian tersebut bukan berarti program MBG dihentikan secara nasional. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan pembelajaran di wilayah masing-masing.
Penghentian sementara penyaluran MBG membuat siswa di wilayah terdampak tidak menerima makanan melalui layanan sekolah selama masa PJJ. Kondisi ini menjadi perhatian, terutama bagi keluarga yang mengandalkan program tersebut untuk membantu memenuhi kebutuhan makanan bergizi anak.
Di sisi lain, keputusan ini juga mempertimbangkan kendala distribusi. Ketika siswa belajar dari rumah, jumlah penerima di sekolah menjadi tidak menentu dan makanan berisiko dibawa pulang tanpa kondisi penyimpanan yang memadai.
Karena itu, pengelolaan bahan makanan selama masa penghentian sementara perlu diperhatikan agar bahan tetap layak digunakan dan tidak terbuang sia-sia.
Program MBG di Sejumlah Sekolah Dihentikan Sementara, Dampal Karthula?
Karhutla bukan sekadar persoalan kebakaran, melainkan juga ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Paparan kabut asap dapat mengganggu pernapasan, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Oleh sebab itu, penanganan karhutla dan pemantauan kualitas udara perlu terus dilakukan. Sekolah dan orang tua juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai jadwal pembelajaran serta langkah perlindungan kesehatan selama kondisi udara belum membaik.
Penghentian sementara MBG di sejumlah sekolah di Sumatera Utara menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat menjalar hingga kegiatan pendidikan dan pemenuhan gizi anak. Kebijakan PJJ menjadi langkah perlindungan bagi siswa, sementara penyesuaian distribusi MBG dilakukan agar pelaksanaannya tetap sesuai dengan kondisi di lapangan.
Masyarakat kini berharap kondisi udara segera membaik sehingga kegiatan belajar tatap muka dan penyaluran MBG dapat kembali berjalan normal. Lebih dari itu, pencegahan karhutla perlu menjadi perhatian bersama agar kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan tidak terus terancam.
