Benarkah Perempuan yang Sering Menahan Emosi Rentan Autoimun? – Pembicaraan ini belakangan sedang ramai dibicarakan di media sosial.
Pembahasan ini ramai karena mengklaim bahwa perempuan yang sering menahan emosi, jarang menangis, ataupun yang terbiasa dengan memendam kemarahannya dikatakan lebih rentan terkena penyakit autoimun.
Hal ini dibagikan dalam bentuk pengaman pribadi maupun konten kesehatan yang sedang populer.
Namun, apakah benar emosi yang dipendam dapat memicu penyakit autoimun?
Menurut CNN ID, sejumlah ahli memang menyebutkan adanya hubungan antara stress, emosi, dan sistem kekebalan tubuh.
Melansir The Independent, sebuah penelitian pada tahun 2020 menemukan bahwasannya perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena penyakit autoimun dibanding laki-laki.
Risiko ini lebih tinggi hingga mencapai angka 80 persen.
Baca juga : Harga Mulai dari Rp10 jutaan, Spek iPhone 17e Tidak Kaleng-Kaleng
Penyakit autoimun sendiri merupakan kondisi dimana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuhnya sendiri.
Beberapa contoh penyakit autoimun yang cukup terkenal yakni, lupus, rheumatoid arthritis, dan multiple sclerosis.
Berdasarkan laporan dari Harvard Health Publishing, penelitian terbaru juga menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara stres dengan meningkatnya risiko penyakit autoimun.
Melalui penelitian tersebut, orang yang sebelumnya pernah didiagnosis mengalami gangguan terkait stres diketahui memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk didiagnosis penyakit autoimun dibanding mereka yang tidak memiliki gangguan stres.
Stres sendiri merupakan sebuah respons alami tubuh terhadap berbagai tekanan, seperti tekanan fisik, emosional, ataupun psikologis.
Ketika seseorang mengalami stres, tubuhnya akan memicu sebuah respons yang membuat hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan.
Jika stres terjadi terus menerus, maka kondisi ini dapat memicu adanya peradangan kronis serta memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Dalam psikologi, terdapat sebuah konsep bernama self silencing.
Self silencing sendiri merupakan kecenderungan seseorang untuk menekan emosi demi menjaga hubungan atau menghindari konflik.
dilansir dari Time, konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Dana Jack pada akhir tahun 1980-an.
Ia menemukan, sebagian perempuan memiliki pola perilaku menahan emosi, memprioritaskan orang lain, hingga menghindari konflik.
Meski begitu, para ahli memberikan penegasan bahwa menahan emosi bukanlah penyebab langsung penyakit autoimun.
Penyakit autoimun merupakan sebuah kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor termasuk genetika, hormon, infeksi, serta faktor lingkungan.
Yang dimana berarti stres ataupun emosi yang dipendam mungkin saja berperan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan secara keseluruhan, namun tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama dari penyakit autoimun.
Penelitian mengenai hubungan langsung antara emosi yang ditekan dan juga gangguan sistem imun masih terus berkembang.
Dengan mengakui dan mengekspresikan emosi secara sehat dapat membantu kita dalam mengurangi stres serta menjaga keseimbangan tubuh.
Beberapa cara yang disarankan antara lain menuliskan jurnal, menjalani terapi psikologis, berolahraga, melakukan latihan pernapasan, hingga mediasi.
