Ini Dia Tren Zero Post yang Mengubah Cara Gen-Z Bermedia Sosial – Beberapa tahun terakhir, banyak orang yang mengosongkan akun sosial medianya dengan sengaja.
Terutama gen Z yang tidak memilik unggahan satupun pada halaman akunnya.
Tren ini dikenal dengan istilah ‘zero post‘.
Tren tersebut mencerminkan perubahan besar dalam cara bagaimana generasi muda memandang media sosial.
Pandangan tersebut mulai dari ruang berbagi kehidupan hingga menjadi platform yang semakin ditinggalkan.
Malansir Cosmopolitan, zero post merupakan sebuah keputusan untuk keluar dari media sosial dengan tanpa mengunggah apapun.
Mereka masih tetap melakukan aktivitas seperti membuat story, memberikan like, bahkan masih menuliskan komen di unggahan seseorang.
Namun, unggahan mereka sendiri tidak disentuh selama berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun.
Baca juga : Taman Nasional Komodo Batasi 1.000 Turis per Hari Mulai April 2026
Sebuah studi terbaru dari The Financian Times yang sudah melakukan survei terhadap 250 ribu pengguna di 50 negara menunjukkan penggunaan media sosial yang turun 10 persen.
Penurunan ini justru dipimpin oleh kelompok usia muda, gen Z yang selama ini identik sebagai pengguna paling aktif.
Berdasarkan CNN ID, hal ini juga terlihat di Indonesia.
Meski tidak ada angka pasti, gen Z sendiri menjadi kelompok kedua terbesar pengguna media sosial di Indonesia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri, ada sebanyak 63 persen gen Z yang aktif menelusuri media sosial.
Tapi ternyata banyak di antara mereka yang berhenti posting ataupun mengunggah konten dengan sangat jarang.
Istilah ‘zero post’ sendiri dipopulerkan oleh Kyle Chayka melalui kolomnya pada The New Yorker.
Ia menggambarkan kondisi ini saat pengguna biasa mulai berhenti membagikan kehidupan sehari-hari mereka di media sosial.
Padahal sebelum ini, media sosial pada umumnya dipenuhi oleh unggahan sederjana seperti foto makanan, hewan peliharaan, ataupun ketika berkumpul bersama teman.
Namun untuk saat ini, konten tersebut semakin jarang terlihat dan tergantikan oleh iklan, video tren berulang, hingga konten hasil dari kecerdasan buatan (AI).
Alih-alih menjadi ruang personal, platform ini sudah dipenuhi oleh konten yang dikurasi secara algoritmik dan berorientasi komersial.
Pengguna tidak lagi melihat adanya unggahan dari orang-orang terdekat, melainkan konten promosi, influencer, dan konten viral yang terus berulang.
Kondisi inilah yang membuat pengalaman bermedia sosial terasa lebih bising dan juga melelahkan.
Banyak pengguna yang merasa kehilangan esensi awal media sosial sebagai seuah ruang interaksi yang autentik.
Gen Z yang selama ini tumbuh dengan adanya internet, saat ini sudah mulai menunjukkan tanda kelelahan digital.
